Welcome

Wednesday, 4 November 2015

FAUNA ENDEMIK MASKOT SETIAP PROVINSI

        Indonesia adalah negara kaya akan keaneka ragaman hayati  dan tidak ada satupun negara lain yang menandingi pesona Indonesia termasuk ribuan jenis fauna yang terkandung di dalamnya. Tiap-tiap provinsi di Indonesia memiliki fauna yang dijadikan identitas, simbol bahkan maskot  sebagai ciri khas daerah. Pilihan fauna-fauna tersebut berdasarkan bahwa fauna tersebut endemik di Provinsi tertentu, khas provinsi tertentu  atau merupakan komoditi andalan  Provinsi tertentu. Di tingkat Nasional, Indonesia memiliki  tiga fauna identitas yaitu Komodo (Satwa Nasional), Siluk Merah (Satwa Pesona) dan Elang Jawa (Satwa Langka). 

       Sedangkan di tiap-tiap Provinsi memiliki fauna yang dijadikan maskot, simbol, atau identitas ciri khas daerah Provinsi masing-masing. Berikut fauna-fauna endemik khas di tiap Provinsi di Indonesia. 

1. Ceumpala Kuneng
(Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam)




Burung Ceumpala Kuneng atau Kucica Ekor Kuning mempunyai nama Latin Trichixos Phyrropygus yang berasal dari keluarga Musicicapidae  adalah burung ocehan yang menjadi kebanggan Provinsi Nangroe Aceh Darussalam sejak zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda sekitar tahun 1607 M. Sehingga burung Ceumpala Kuneng dijadikan sebagai fauna identitas oleh pemerintah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.

 Sedangkan untuk nama burung Ceumpala Kuneng mempunyai beragam nama yaitu Rufous-Tailed Shama, Kucica Ekor Kuning, Cempala Kuning, Cicem Pala Kuneng (dalam bahasa Aceh). Sehingga burung Ceumpala Kuneng atau lebih familiar dengan Kucica Ekor Kuning menjadi  begitu populer di masyarakat Indonesia. Untuk di luar negeri burung Ceumpala Kuneng juga mempunyai nama yang beragam diantaranya Orange-Tailed Shama dan Murai Ekor  Jingga (di negara Malaysia).

Burung Ceumpala Kuneng penyebarannya di Indonesia banyak hidup di Pulau Sumatera yakni Aceh. Sedangkan di luar negeri burung ini tersebar di daerah Malaysia, Brunei, dan Thailand. Untuk tempat hidupnya burung Ceumpala Kuneng dapat dijumpai pada dataran rendah di ketinggian 1200 meter diatas permukaan laut (Mdpl) yang mana terdapat di, hutan dataran rendah, hutan berdaun lebar, dan rawa bergambut.

Ciri-ciri Ceumpala Kuneng yang dilihat dari fisiknya dan kicaunnya mempunyai kesamaam dengan burung Murai Batu. Secara umum burung Ceumpala Kuneng mempunyai ukuran tubuh sekitar 21 cm tapi ada perbedaan antara jantan dengan betina dari ciri-ciri fisiknya. Ceumpala Kuneng jantan terdapat warna hitam pada tubuh bagian atas, tenggorokan dan dada juga terdapat warna hitam, alis berwarna putih, ekor berwarna orange dan pada ujung ekornya berwarna hitam, serta pada bagian perut hingga di bagian kloaka terdapat warna orange. Sedangkan untuk Ceumpala Kuneng betina ciri-ciri fisiknya ialah warna coklat tampak di bagian atas tubuh, warna coklat muda terlihat dibagian perut, ekor warna oranye dan bagian ujung ekornya juga berwarna hitam seperti yang jantan.

Untuk ciri-ciri kicauan dari burung Ceumpala Kuneng ialah siulannya terdengar merdu tapi tidak semerdu burung Murai Batu. Bunyi suaranya "pi-uuu" yang nada kicauannya terkadang meningkat dan menurun yang tidak menentu serta nadanya terdengar tunggal dan bisa ganda.

Kepopuleran burung Ceumpala Kuneng yang dikenal sejak tahun 1607 M juga bertahan sampai sekarang menjadikan keberadaan burung ini di habitatnya terancam akibat adanya perburuan liar terhadap Ceumpala Kuneng dan pembalakan hutan. Sehingga keberadaaan burung Ceumpala Kuneng / Kucica Ekor Kuning di Sumatera hanya terdapat di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser dan Pemerintah mengeluarkan status terancam untuk burung Ceumpala Kuneng. Sedari itu burung Ceumpala Kuneng tidak boleh diburu lagi dan dipelihara dan harus hidup di alam liar dan di konservasi. 

Saat ini untuk menjumpai burung Ceumpala Kuneng langsung dari habitat aslinya di Taman Nasional Gunung Leuser sudah sulit untuk ditemukan karena mungkin Ceumpala Kuneng merasa asing dengan kedatangan manusa atau mahluk hidup lainnya yang mendekati mereka, ***

No comments:

Post a Comment